Saksi Publik Jakarta 02 Juni 2026 – Viralnya lagu “MBG” bertajuk “Mas Bahlil Ganteng” yang dikaitkan dengan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia memperlihatkan satu fenomena khas era digital: popularitas dapat bergerak lebih cepat daripada penjelasan program, dan kedekatan publik sering dibangun bukan dari kampanye langsung, melainkan dari pengulangan paparan di layar.
Dalam beberapa waktu terakhir, lagu itu kerap muncul melintasi beranda pengguna di berbagai platform digital. Kartunisasi humor, lirik yang mudah diingat, hingga gaya penyampaian yang ringan membuat “MBG” terasa seperti konten keseharian, bukan sekadar materi politik. Di sinilah menariknya, karena publik tidak hanya mendengar lagu ia juga sedang membangun persepsi terhadap figur yang “menjadi tokoh” dalam narasi tersebut.
Secara psikologis, fenomena ini dapat dibaca melalui mere exposure effect (efek paparan berulang). Konsep yang pertama kali dikemukakan psikolog Robert Zajonc pada era 1960-an menyatakan bahwa manusia cenderung menyukai sesuatu hanya karena sering melihat atau terpapar hal tersebut. Dengan kata lain, frekuensi paparan bisa melahirkan rasa familiaritas, lalu rasa positif.

Viralnya “MBG” memperlihatkan mekanisme itu terjadi secara nyata. Publik yang semula mungkin hanya “sekilas lewat” justru berulang kali terpapar hingga lirik, jargon, bahkan asosiasi dengan tokoh tertentu menjadi lebih akrab. Dalam konteks politik, akrab sering diterjemahkan sebagai “terasa dekat”, “lebih humanis”, dan pada sebagian orang bisa mengarah pada dukungan atau minimal simpati.
Bapak Bahlil sendiri diketahui mengapresiasi lagu tersebut dan menyampaikan rasa terima kasih, sekaligus menitipkan pesan agar kreativitas anak muda tidak masuk zona SARA. Respons seperti ini penting karena dapat menegaskan bahwa ekspresi digital bukan selalu menjadi ancaman politik selama ada kendali nilai humor boleh hadir, tetapi tidak merendahkan martabat dan tidak memantik kebencian.
Di sisi lain, “MBG” juga dapat dipahami sebagai strategi political branding yang berkelindan dengan gagasan “politik gembira”. Jargon yang viral melekat pada tokoh politik dinilai efektif menarik perhatian generasi muda mirip pola yang pernah menempel pada kata-kata sapaan seperti “kanda” dan “adinda”. Figur pemimpin menjadi tampil dengan wajah yang lebih santai; citra dibangun bukan hanya melalui kanal formal, melainkan lewat budaya pop dan bahasa keseharian.
Apakah viralitas cukup untuk menguatkan politik?
Toto Foundation sebagaimana gagasan yang berkembang dalam ruang publik—menggarisbawahi perlunya tokoh kembali pada jati diri, rekam jejak, dan gagasan program kerja yang substansial. Ini bukan kritik yang menolak branding; melainkan pengingat bahwa citra hanyalah pintu, sedangkan substansi adalah tujuan. Dalam politik, paparan yang tinggi bisa menciptakan simpati sementara, tetapi kepercayaan publik pada akhirnya diuji oleh konsistensi tindakan, rekam jejak kebijakan, serta kemampuan menjawab masalah nyata.
Karena itu, lonjakan popularitas yang menurut Anda terasa menguat dalam bulan terakhir patut dibaca sebagai momentum, bukan jaminan. “Durian runtuh” dalam analogi yang Anda gunakan tepat menggambarkan efek sinergi digital pengulangan paparan membuat figur lebih sering muncul, lebih familiar, dan berpotensi lebih disukai. Akan tetapi, keberlanjutan elektabilitas tidak semata-mata bergantung pada lagu atau tren; ia bergantung pada apakah publik menemukan “alasan yang masuk akal” untuk terus percaya.
Pada akhirnya, fenomena “MBG” adalah cermin perubahan cara politik dibaca di ruang digital. Vaksi viralitas bisa membuat tokoh terasa lebih dekat, tetapi agenda yang nyata terukur, dapat dipertanggungjawabkan, dan relevan adalah fondasi yang menentukan. Di era mere exposure effect, perhatian bisa dipanen lewat paparan; namun dukungan yang langgeng hanya tumbuh lewat substansi.
Penulis : Skamto99








