Beranda Daerah Ebeg Banyumasan di Persimpangan Mistis dan Selera Pasar

Ebeg Banyumasan di Persimpangan Mistis dan Selera Pasar

Ketika Banaspati Berubah Wujud

11
0
Banaspati
Banaspati
Saksi Publik Cilacap – 30 Mei 2026 Banaspati dikenal sebagai sosok dalam mitologi dan cerita rakyat Nusantara makhluk halus berwujud api yang kerap digambarkan menakutkan. Namun malam ini, Banaspati hadir dengan tampilan yang berbeda sosok berambut panjang dan pirang, seolah meninggalkan karakter lamanya yang identik dengan nuansa mistis.

Perubahan itu tampil dalam pementasan kesenian kuda kepang yang berasal dari Cipari, Cilacap. Pertunjukan yang disaksikan ratusan penonton sekitar lima ratusan orang menjadi sorotan karena selain memadukan visual baru, pementasan juga menampilkan komposisi penari yang berbeda dari kebiasaan kelompok Ebeg Banaspati.

Dalam pementasan tersebut, penari berjumlah tujuh orang perempuan. Komposisi ini dinilai “tidak lazim” oleh sebagian pengamat budaya, mengingat grup Ebeg Banaspati selama ini dikenal mengusung ebeg klasik Banyumasan yang kuat dengan karakter lokal serta atmosfer tradisi.

Bagi banyak penggemar ebeg, Banaspati bukan sekadar tokoh panggung. Ia bagian dari narasi yang biasanya lekat dengan suasana mistis, ritme tradisional, dan simbol-simbol yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tetapi malam ini, Banaspati tampak bergeser bukan lagi terutama sebagai sosok menakutkan, melainkan figur yang tampil lebih dekat pada selera visual tontonan konten.

Mas Prakas, tokoh budaya sekaligus pemerhati ebeg, menyampaikan pandangannya usai menyaksikan pementasan tersebut. Menurutnya, perubahan yang terjadi merupakan fenomena yang kerap dialami kelompok-kelompok kesenian tradisional.

“Mungkin semua kelompok akhirnya harus tunduk pada selera pasar. Biasanya Banaspati selalu kental suasana mistis dan klasik, tapi malam ini tampak berubah 180 derajat. Tapi ya itulah kesenian,” ujar Mas Prakas.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kesenian tradisional berada dalam ruang tawar yang dinamis. Di satu sisi, ada tuntutan menjaga pakem. Di sisi lain, ada kebutuhan agar kesenian tetap diminati penonton termasuk generasi muda dengan cara-cara yang sering kali lebih menonjolkan unsur tampil, visual, dan variasi panggung

Secara umum, Ebeg Banyumas merupakan tarian tradisional yang menggunakan kuda kepang dari anyaman bambu. Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga identitas budaya masyarakat Banyumas.

Jejak sejarah ebeg sering dikaitkan dengan latihan perang prajurit serta media penyebaran agama. Dalam perkembangan berikutnya, ebeg juga dikenal sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah. Pada masa perang kemerdekaan, properti ebeg kerap dimanfaatkan pejuang lokal sebagai taktik penyamaran untuk mengelabui Belanda, bahkan membantu menyembunyikan senjata.

Dengan latar itu, ebeg pada dasarnya memiliki karakter adaptif dapat berfungsi dalam konteks sosial yang berubah, menyesuaikan strategi, dan tetap menghadirkan pesan kultural.

Group Banaspati
Group Banaspati

Pementasan malam ini memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berubah bentuk tanpa sepenuhnya kehilangan “roh” keseniannya. Banaspati sebagai figur yang semula digambarkan sebagai makhluk berwujud api, malam ini hadir sebagai sosok berambut panjang dan pirang sebuah transformasi visual yang segera menarik perhatian penonton.

Namun di balik sorotan itu, muncul ruang diskusi sejauh mana perubahan ini merupakan strategi agar kesenian bertahan dan sejauh mana ia bisa menggeser ciri khas yang membuat ebeg tetap dikenali.

Yang jelas, kesenian tradisional seperti ebeg terus mencari bentuknya sendiri agar tetap hidup. Banaspati yang tidak lagi menakutkan malam ini menjadi simbol persimpangan antara mistis dan tontonan, antara pakem dan kebutuhan panggung, serta antara tradisi dan selera pasar.

Penulis : Skamto99

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini