Saksi Publik Jakarta 25 Juni 2026 – Oligarki hampir selalu memicu sentimen negatif dalam ruang publik kita. Kita terbiasa membayangkan sekelompok kecil elite super kaya yang mendikte hukum, mengeruk kekayaan alam, dan Menyetir kebijakan demi isi dompet mereka sendiri. Namun, jika kita melihat sejarah secara objektif, muncul sebuah pertanyaan provokatif Apakah oligarki selamanya buruk dan sama sekali tak berperan dalam kemajuan suatu negara?
Jawabannya ternyata tidak hitam-putih. Perbedaan mendasar antara kehancuran sebuah bangsa dan lompatan kemajuan luar biasa sering kali bukan terletak pada ada atau tidaknya oligarki, melainkan pada karakter dan arah orientasi dari elite kekuasaan tersebut.
Belajar dari Genro Saat Oligarki Berorientasi Nasionalis
Jepang pada masa Restorasi Meiji adalah contoh nyata bagaimana struktur oligarki justru menjadi motor penggerak modernisasi. Kelompok Genro sekelompok kecil elite negarawan yang memegang kekuasaan absolut kala itu menggunakan kendali terpusat mereka bukan untuk memperkaya diri secara personal, melainkan untuk menyelamatkan Jepang dari ancaman kolonialisme Barat.
Ada beberapa langkah strategis oligarki Jepang yang mengubah peta sejarah,
Visi Jangka Panjang (Fukoku Kyohei) Elite Meiji menyadari bahwa untuk bertahan, Jepang harus menjadi Negara Makmur, Militer Kuat. Kekuasaan absolut dipakai untuk merombak total struktur agraris menjadi raksasa industri.
Pemusatan Modal untuk Industrialisasi Berbeda dengan negara berkembang yang modalnya dilarikan ke luar negeri atau dikorupsi secara masif, oligarki Jepang memusatkan modal negara untuk membangun infrastruktur kritis, pabrik modern, dan teknologi.
Melahirkan Zaibatsu (Enterpreneur Sejati) Oligarki Jepang dengan sengaja menyuburkan dan menyerahkan pengelolaan industri strategis kepada keluarga-keluarga pengusaha (seperti Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo). Hubungan ini melahirkan kelas pengusaha tangguh yang kompetitif secara global, bukan sekadar pemburu rente.

Eksklusif, Kuat, dan Minim Visi Entrepreneur Sejati
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Oligarki di tanah air juga sangat kuat dan mengakar secara struktural. Namun, ada jurang pemisah yang sangat lebar dalam hal output ekonominya.
Mengapa oligarki kita justru kerap dianggap sebagai beban kemajuan?
1. Pelestarian Kekuasaan yang Eksklusif
Alih-alih mendorong lompatan besar dalam sistem bernegara, oligarki di Indonesia cenderung melanggengkan kekuasaan dengan cara memonopoli kontrol terhadap sumber daya alam dan kebijakan publik. Aturan hukum sering kali dikondisikan agar ramah terhadap kepentingan kelompok, yang pada akhirnya memicu stagnasi atau lambatnya kemajuan kualitas demokrasi dan kesejahteraan sosial.
2. Absennya Karakter Entrepreneur Sejati
Ini adalah perbedaan paling krusial Oligarki Indonesia tidak memunculkan entrepreneur (pengusaha) sejati yang inovatif. Di Jepang, hubungan elite politik-bisnis menghasilkan industri manufaktur raksasa yang menembus pasar dunia. Di Indonesia, relasi elite lebih sering menghasilkan pemburu rent-seekers. Mereka menjadi kaya bukan karena inovasi produk atau efisiensi pasar, melainkan karena kedekatan dengan konsesi lahan, izin tambang, kuota impor, atau proyek-proyek APBN.
Jika oligarki Jepang sibuk memperbesar kue ekonomi nasional melalui industrialisasi global, oligarki kita lebih sering sibuk berebut bagaimana cara memotong kue yang sudah ada.
Masalahnya Bukan Cuma Struktur, tapi Karakter
Oligarki pada dasarnya adalah potret konsentrasi kekuasaan. Sejarah membuktikan bahwa dalam fase tertentu, kekuasaan yang terpusat bisa sangat efektif membawa perubahan drastis ke arah kemajuan seperti yang terdokumentasi dalam sejarah perubahan Jepang.
Indonesia tidak kekurangan orang kaya ataupun elite politik yang kuat. Yang kita sisa-sisakan hari ini adalah krisis visi jangka panjang dari para pemegang modal tersebut. Selama elite kita hanya puas bermain di sektor ekstraktif yang mengandalkan koneksi politik ketimbang melahirkan inovasi dan industrialisasi yang bersaing di kancah global, selama itu pula oligarki akan terus menjadi hantu yang menahan Indonesia untuk benar-benar maju.
( Saksi Publik )








