Saksi Publik Cilacap 24 Juni 2026 – Kita hari ini sedang berdiri di jembatan yang rapuh. Kaki kita masih berpijak di bumi konvensional, namun kepala kita sudah sepenuhnya tenggelam dalam fase hidup maju berlatar dunia maya. Transisi ini begitu cepat, menciptakan sebuah paradoks besar kita merasa tahu segalanya, padahal kita hanya mengerti sedikit hal.
Dunia digital menjanjikan demokratisasi informasi, namun yang kita dapatkan justru ilusi pengetahuan. Kita terjebak dalam alam pemikiran yang dibangun dari asumsi dan prediksi. Tanpa harus beranjak kemana-mana, tanpa harus melangkah keluar dari ruang lingkup kamar yang kecil, kita merasa telah menaklukkan dunia hanya dengan sekali usap di layar ponsel.
Sindrom Doktor Instant dan Hakim Digital
Salah satu fenomena paling menggelikan sekaligus menyedihkan dari transisi ini adalah lahirnya sindrom mengerti segalanya. Sebagian orang menempuh pendidikan alakadarnya, namun di ruang siber, mereka mendadak bertransformasi seperti seorang doktor yang ahli di segala bidang.
Dengan modal sepotong video pendek atau utas di media sosial, kita begitu gampang,
Menghakimi orang lain tanpa tahu arah kejelasan yang sebenarnya.

Terjebak dalam framing media dan menelan bulat-bulat opini yang sengaja diciptakan, tanpa pernah repot-repot mencari tahu di mana pembelokan maknanya terjadi.
Menyalahkan orang lain yang tidak sejalan dengan garis linimasa kita.
Kita tidak lagi mengejar kebenaran faktual yang dirasakan langsung oleh indra, melainkan kebenaran artifisial yang diproduksi oleh algoritma.
Ketika Viral Menjadi Agama Baru
Di era ini, kebenaran tidak lagi diukur dari validitas data atau moralitas, melainkan dari angka. Ketika sesuatu menjadi mayoritas dan viral, ia otomatis dianggap benar. Sebaliknya, minoritas yang terkadang membawa esensi kebenaran sejati justru dikeroyok, dihakimi, dan dibungkam oleh riuhnya netizen.
Benturan Norma dan Tembok Kapitalisme
Ironisme ini berjalan lebih jauh ketika kita bicara tentang realitas sosial dan ekonomi. Di tengah masyarakat yang mabuk asumsi digital ini, ada sebagian kecil orang yang masih waras dan mencoba menyuarakan norma kebenaran. Namun, suara-suara jernih itu selalu membentur tembok raksasa kapitalisme yang berlindung di balik tameng pembukaan lowongan pekerjaan.
Atas nama pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan semu, eksploitasi dilegalkan. Kekuasaan dan relasi kuasa bekerja di balik layar, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya sembari memainkan narasi bahwa mereka sedang menyelamatkan isi dompet rakyat. Para elite dengan fasih berbicara atas nama rakyat di panggung-panggung politik digital, tanpa pernah benar-benar tahu apa yang menjadi esensi kebutuhan mendasar rakyat di akar rumput.
Lingkaran Setan Ada Uang, Ada Kuasa
Sedihnya, drama teatrikal ini sering kali berjalan mulus karena mendapat restu dari korban itu sendiri. Rakyat kecil, yang terjebak dalam ruang lingkup hidup yang sempit dan kebutuhan perut yang mendesak, justru ikut memuluskan hukum besi ada uang, ada kuasa.
Pragmatisme mengalahkan idealisme. Ketika literasi kalah oleh manipulasi informasi, dan isi perut mengalahkan akal sehat, maka kekuasaan yang korup akan selalu menemukan jalannya untuk langgeng.

Menolak Menjadi Robot Asumsi
Kita harus sadar bahwa hidup tidak sebatas apa yang tersaji di beranda media sosial. Jika kita terus membiarkan langkah kaki kita kecil namun ego kita membesar karena ilusi dunia maya, kita hanya akan menjadi generasi peramal yang hidup dari asumsi ke asumsi.
Sudah saatnya kita mengambil jarak sejenak dari layar visual. Melangkahlah lebih jauh, lihatlah realitas dengan mata kepala sendiri, dan belajarlah untuk tidak gampang menghakimi. Kebenaran tidak selalu berisik dan viral; seringkali, ia sunyi dan butuh kejernihan berpikir untuk bisa menemukannya.
( Skamto99 )








