Beranda Hukum & Kriminal Menakar Fondasi Kepercayaan Publik terhadap Polri di Era Digital

Menakar Fondasi Kepercayaan Publik terhadap Polri di Era Digital

17
0

Menakar Fondasi Kepercayaan Publik terhadap Polri di Era Digital

JAKARTA, SAKSI PUBLIK 30 JUNI 2026 — Mempertahankan reputasi sebuah institusi penegak hukum di era digital bukanlah perkara mudah. Di zaman di mana ruang siber begitu riuh oleh kritik dan sentimen negatif yang mudah menggulung, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) justru berhasil menorehkan catatan impresif.

Belum lama ini, hasil survei nasional memotret lonjakan signifikan pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Korps Bhayangkara. Angka kepercayaan publik melesat hingga 82,4 persen pada pertengahan 2026, sebuah lompatan besar jika dibandingkan dengan capaian tahun 2025 yang berada di angka 76,2 persen.

Reformasi Internal yang Berbuah Manis

Apresiasi terhadap capaian ini datang dari berbagai lini, salah satunya dari Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama. Dalam keterangannya, ia menilai bahwa lompatan angka ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah manis dari konsistensi langkah reformasi yang dijalankan secara internal oleh Polri.

“Peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa berbagai langkah reformasi yang dijalankan Polri mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari pembenahan internal, peningkatan profesionalisme personel, hingga perbaikan kualitas pelayanan publik, seluruh upaya tersebut menunjukkan arah perubahan yang semakin positif,” ujar Sandri.

Menurut Sandri, kunci utama dari keberhasilan ini terletak pada kehadiran nyata para personel di tengah-tengah ruang hidup masyarakat. Reformasi tidak lagi hanya sekadar jargon di atas kertas, melainkan manifestasi pelayanan yang konkret.

“Mereka hadir ketika masyarakat membutuhkan. Kerja nyata di lapangan itulah yang menjadi fondasi meningkatnya kepercayaan publik terhadap Polri,” tuturnya tegas.

Tantangan Era Digital Antara Kritik dan Rasa Sayang

Prestasi yang diraih Polri pada pertengahan 2026 ini patut diacungi jempol. Mengapa? Karena dinamika di era digitalisasi hari ini menuntut standar transparansi yang luar biasa tinggi. Di media sosial, sebuah kesalahan kecil oknum di daerah terpencil bisa dengan sangat mudah menjadi viral dan menyudutkan institusi secara keseluruhan. Begitu gampangnya opini publik digiring untuk menyalahkan institusi kepolisian.

Namun, angka 82,4 persen ini berbicara lain. Data ini menjadi sebuah konfirmasi sosiologis yang kuat pada hakikatnya, masyarakat sangat menyayangi dan mengapresiasi kinerja Polri.

Kritik pedas yang kerap berseliweran di dunia maya sebenarnya bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud dari harapan yang tinggi (high expectation) dari warga negara agar polisinya tampil sempurna. Ketika Polri menjawab harapan itu dengan pembenahan internal dan perbaikan kualitas pelayanan publik, masyarakat tidak ragu untuk memberikan rapor hijau.

Menjaga Konsistensi

Tentu, angka 82,4 persen bukanlah titik akhir, melainkan sebuah bahan bakar baru untuk terus melaju. Di paruh kedua tahun 2026 dan menyongsong tahun-tahun politik ke depan, tantangan Polri akan semakin kompleks.

Tugas berat kini berada di pundak setiap personel untuk menjaga agar kerja nyata di lapangan sebagaimana yang digarisbawahi oleh Founder Kontra Narasi tetap konsisten. Sebab, mempertahankan kepercayaan di tengah riuhnya era digital jauh lebih menantang daripada merebutnya kembali. (SP/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini