CILACAP, SAKSI PUBLIK — Ketika birokrasi sering kali terjebak dalam pusaran proposal dan janji manis anggaran, rakyat di akar rumput memilih untuk tidak tinggal diam. Semangat persaudaraan dan gotong royong nyata dipertontonkan oleh warga Desa Karanggintung (Kecamatan Gandrungmangu) dan Desa Karanggedang (Kecamatan Sidareja), Kabupaten Cilacap, pada Kamis (2/7/2026).
Bosan menunggu kepastian dari pemerintah daerah maupun pusat, warga dari kedua wilayah ini memutuskan bahu-membahu memulai pembangunan jembatan penghubung di Dusun Pagergunung Blok Cikokok RW 1—sebuah titik krusial yang berada tepat di garis batas antar kedua desa.
Kemandirian Total Tanpa Anggaran Negara
Pembangunan infrastruktur ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Pasalnya, proyek ini sepenuhnya berlandaskan swadaya murni masyarakat. Warga secara mandiri mengumpulkan dana, material, hingga menyumbangkan tenaga kasar tanpa sepeser pun menyentuh APBD ataupun APBN.
Jembatan yang secara kolektif diberi nama Jembatan Cilangkap ini direncanakan memiliki spesifikasi:
Panjang 3 meter. Lebar 3 meter .Tinggi 7 meter
Meskipun ukurannya terlihat sederhana, fungsi strategis jembatan ini sangat vital bagi perputaran ekonomi dan mobilitas sosial kedua kecamatan.

Simbol Perlawanan Terhadap Ketidakpedulian Birokrasi
Acara peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Kepala Desa Karanggintung, Turmono, bersama Kepala Desa Karanggedang, Saryo. Kehadiran kedua kepala desa ini mempertegas soliditas warga batas wilayah yang kerap luput dari prioritas pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, kedua kepala desa memuji habis-habisan kepedulian dan kekompakan warga yang rela menyisihkan tenaga, biaya, dan waktu demi terwujudnya fasilitas yang sangat dibutuhkan ini.
“Jembatan Cilangkap ini bukan sekadar menghubungkan dua jalan, melainkan mempererat tali persaudaraan kita selamanya. Terima kasih kepada semua warga yang telah bergerak bersama, ini adalah bukti bahwa kemandirian masyarakat desa sangat kuat,” ujar Kades Turmono tegas, didampingi Kades Saryo.
Gotong Royong yang Menghidupkan Asa
Kegiatan peletakan batu pertama tersebut diakhiri dengan tradisi selamatan dan makan bersama seluruh warga yang hadir. Acara ini digelar sebagai wujud syukur sekaligus doa bersama agar proses pembangunan berjalan lancar, selesai tepat waktu, dan aman untuk digunakan.
Nantinya, jika Jembatan Cilangkap ini rampung, akses penunjang ekonomi warga untuk berladang, berdagang, maupun mobilitas sosial ke wilayah tetangga akan terpangkas drastis. Aksi nyata warga dua desa di Cilacap ini menjadi bukti otentik ketika pemerintah lambat hadir, rakyat punya cara sendiri untuk berdaulat.
(Mugi Ir/Red)








