Saksi Publik Cipari – Di atas hamparan hijau Perbukitan Cipari, angin berembus membawa kehangatan yang tak pernah pudar. Di sanalah menetap seorang putri berparas jelita dan berbudi luhur, Raden Roro Melati. Hidupnya kian sempurna saat takdir mempertemukannya dengan Raden Anupama, pria yang mencintainya dengan tulus tanpa jeda.
Dari ikatan kasih yang suci itu, lahir dua orang putri yang cantik nan menggemaskan. Kehidupan mereka dipenuhi kebahagiaan yang melimpah, dikelilingi para pekerja dan pengikut setia yang mengabdi dengan penuh keikhlasan. Cipari saat itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan istana kecil yang dibangun atas dasar cinta.
Namun, ombak ketetapan takdir menghantam tanpa ketukan. Sebuah penyakit parah menggerogoti tubuh Raden Anupama. Meski pelukan hangat dan doa-doa khusyuk terus dibisikkan Raden Roro Melati di setiap napas suaminya, takdir menetapkan batas. Raden Anupama berpulang, meninggalkan separuh jiwa sang putri dalam kegelapan.
Kini, Raden Roro Melati harus berdiri tegak. Dengan sisa kekuatan di dadanya, ia membesarkan kedua putrinya seorang diri. Namun, saban senja menyapa, langkah kakinya selalu tertuju ke puncak tertinggi perbukitan Cipari.

Dari atas bukit itu, tatapannya menerobos jauh ke bawah, menyusuri tiap sudut tempat ia dan Raden Anupama pernah merajut kebahagiaan. Angin puncak menjadi saksi bisu betapa rindu dan cintanya tak pernah berkurang sedikit pun—ia hanya menumpuk, kian menggebu, hingga tak lagi muat di dunia fana.
Suatu hari, ketika rindu itu telah mencapai puncaknya dan tugasnya di dunia terasa usai, sebuah keajaiban terjadi. Didorong oleh keabadian cintanya yang melampaui raga, Raden Roro Melati berjalan mendekati dinding batu besar di puncak bukit. Batu itu mendadak berkilau indah, bening dan mengkilap bak kaca atau beling. Dengan keheningan yang anggun, sang putri moksa, menyatukan jiwanya ke dalam dinding batu berkilau tersebut.
Melihat keagungan cinta sang putri, para pengikut setianya tak bersiap untuk berpisah. Demi menjaga kesucian tempat tinggal terakhir sang putri, mereka menyerahkan wujud manusianya. Seketika, para pengikut itu berganti rupa menjadi kawanan kera berwarna-warni yang dengan setia melingkupi dan melindungi bebatuan tempat Raden Roro Melati bertakhta dalam moksanya.

Warisan Kasih di Atas Bukit
Situs tempat keajaiban itu terjadi kini dikenal sebagai Igir Beling. Bebatuan berkilau di puncak Cipari itu berdiri kokoh, memantulkan sinar matahari layaknya cermin keabadian.
Hingga saat ini, Igir Beling bukan sekadar puncak perbukitan biasa. Banyak orang datang mendaki, menatap bebatuan mengkilap itu dengan penuh ketakjuban. Konon, siapa saja yang melangkahkan kaki ke bukit ini dengan niat yang murni, cintanya bersama pasangan akan diikat secara kekal hanya maut yang mampu memisahkan, tepat seperti pengharapan dan doa yang ditinggalkan oleh Raden Roro Melati.
( Skamto99 )








