CILACAP, SAKSI PUBLIK 07 JULI 2026– Harapan baru kini menaungi para petani di Desa Sidasari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap. Melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) / Dirjen Lahan dan Irigasi, Kementerian Pertanian RI resmi mengucurkan program Irigasi Perpompaan (Irpom) senilai Rp 155.700.000 kepada Kelompok Tani (KT) Barokah I.
Program strategis ini dialokasikan untuk mengairi sedikitnya 25 hektare (HA) lahan persawahan yang selama ini bergantung pada sistem tadah hujan. Guna memastikan transparansi dan kedekatan manfaat, proyek ini dikerjakan secara swakelola oleh Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan (UPKK) KT Barokah I selaku pelaksana kegiatan.
Bantuan yang digelontorkan meliputi pengadaan unit pompa air, pembuatan sumur bor/pantek, serta sistem pipanisasi yang menghubungkan sumber air terdekat langsung ke areal persawahan warga.
Ikhtiar Pemerintah Sejahterakan Petani
Ketua Kelompok Tani Barokah I, Bapak Maftuhin, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas perhatian besar dari pemerintah pusat terhadap nasib petani di desanya.
“Kami sangat berterima kasih. Semoga ini adalah ikhtiar nyata dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya di Desa Sidasari,” ujar Maftuhin saat ditemui di lokasi kegiatan.

Solusi Strategis Ubah Pola Tanam
Senada dengan ketua kelompok tani, Sekretaris Desa Sidasari, Bapak Tasiwan atau yang akrab disapa Iwenk menegaskan bahwa program Irpom ini adalah jawaban atas kendala klasik yang dihadapi petani setempat pada musim kemarau.
“Program Irigasi Perpompaan dari Kementan ini adalah solusi strategis untuk menyediakan pasokan air secara kontinu. Program ini menyasar lahan tadah hujan dan kering, sehingga diharapkan mampu mengubah frekuensi tanam dari yang semula hanya sekali setahun, kini bisa dioptimalkan menjadi 2 hingga 3 kali tanam dalam setahun melalui optimalisasi pompa air,” jelas Iwenk.
Dengan adanya sistem swakelola ini, masyarakat dan anggota kelompok tani terlibat langsung dalam pembangunan fisik sarana irigasi. Pola ini dinilai jauh lebih efektif karena menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) di kalangan petani, sehingga perawatan fasilitas irigasi ke depannya dipastikan akan lebih terjaga demi keberlanjutan swasembada pangan di tingkat desa. (SP/Mugi irawan)








