Jakarta – Budaya wisuda atau tradisi kelulusan modern dimulai di universitas-universitas Eropa pada abad ke-12. Tradisi ini telah berkembang menjadi bagian penting dalam mengakui keberhasilan akademik mahasiswa. Untuk perguruan tinggi, wisuda dianggap sebagai pencapaian tertinggi dalam usaha mencari ilmu. Namun, seiring waktu, tradisi ini meluas hingga mencakup jenjang pendidikan yang lebih rendah, seperti TK hingga SLTA.
Asal-usul Tradisi Wisuda
Tradisi wisuda, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi, berasal dari universitas-universitas di Eropa pada Abad Pertengahan. Pada masa itu, wisuda merupakan simbol pengakuan terhadap pencapaian akademis dan kemampuan intelektual mahasiswa.
Universitas Tertua
Universitas Bologna di Italia dan Universitas Oxford di Inggris adalah dua universitas tertua di Eropa yang telah memiliki tradisi kelulusan sejak awal pendirian mereka. Di kedua universitas ini, wisuda diadakan dengan seremonial yang khas, yang menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan lainnya.
Perkembangan Tradisi Wisuda
Seiring dengan perkembangan pendidikan tinggi di seluruh dunia, tradisi wisuda juga menyebar dan menjadi lebih umum. Banyak institusi pendidikan, tidak hanya universitas, mulai mengadopsi praktik ini untuk merayakan keberhasilan siswa di berbagai tingkatan.

Pakaian Toga dan Simbolisme
Penggunaan toga akademik pada acara wisuda sudah ada sejak abad pertengahan di Eropa. Toga ini melambangkan prestise dan tanggung jawab akademis. Selain toga, terdapat juga tradisi lain yang menyertai acara wisuda, seperti pidato wisuda, pelemparan topi, dan pemberian penghargaan.
Signifikansi Wisuda
Wisuda merupakan momen penting dalam kehidupan seorang individu, menandai keberhasilan menyelesaikan pendidikan dan mengawali langkah baru dalam karir atau kehidupan selanjutnya. Momen ini sering kali dihadiri oleh keluarga, teman, dan pihak lain yang memberikan dukungan.
Wisuda di Indonesia Dari Universitas Hingga Tingkat Dasar
Di Indonesia, sejak era 2000-an, budaya wisuda juga mulai meluas ke sekolah-sekolah dari tingkat TK hingga SLTA. Meskipun bagi sebagian orang tua yang berkantong tebal, hal ini tidak menjadi masalah, bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial, budaya ini sering dianggap sebagai beban tambahan.
Budaya Konsumtif
Praktik wisuda yang semakin komersial dapat dianggap sebagai budaya konsumtif. Banyak orang tua merasa tertekan untuk mengeluarkan biaya lebih untuk merayakan wisuda, meskipun situasi keuangan mereka tidak mendukung. Hal ini menciptakan kesenjangan antara mereka yang mampu dan tidak mampu.
Tanggapan Pemerintah
Belum lama ini, Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, mengeluarkan aturan ketat terkait pelaksanaan wisuda. Meskipun keputusan ini menimbulkan kontroversi, banyak yang melihatnya sebagai langkah positif untuk mengurangi budaya konsumtif dan mempertimbangkan kesejahteraan wali murid secara keseluruhan.
Budaya wisuda memiliki akar yang dalam dalam konteks pendidikan, tetapi juga membawa tantangan baru di Indonesia. Penting untuk menemukan keseimbangan antara merayakan keberhasilan akademik dan menjaga agar tradisi ini tidak menjadi beban finansial. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan bijak, diharapkan budaya wisuda dapat menjadi momen yang bermakna bagi semua pihak.
( Red : Wiryo Gamidiharjo )








