Saksi Publik – Jakarta .Kerajaan Kalingga, yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha awal di Nusantara. Meskipun memiliki sejarah yang kaya, terdapat beberapa kesalahan dalam penamaan dan penulisan yang sering kali tidak disadari, terutama yang berkaitan dengan interaksi dengan Dinasti Tang di Tiongkok.
Sejarah dan Lokasi
Kerajaan Kalingga, atau yang juga dikenal sebagai Kerajaan Holing, diperkirakan berdiri pada abad ke-6 Masehi. Lokasi kerajaan ini teridentifikasi di Kecamatan Keling, Jepara, dan merupakan pusat peradaban yang berpengaruh dalam perkembangan budaya di wilayah tersebut. Kerajaan ini terletak di antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara, dengan pusat pemerintahannya kemungkinan berada di daerah tersebut.
Masa Kejayaan
Masa kejayaan Kalingga terjadi pada pemerintahan Ratu Shima, yang berkuasa antara tahun 674 hingga 695 M. Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan berpengaruh dalam mengatur pemerintahan serta ekonomi kerajaan. Pada masa ini, Kalingga tumbuh sebagai pusat perdagangan yang makmur, dengan komoditas seperti kulit penyu, emas, dan hasil pertanian seperti padi.
Kesalahan Penamaan
Salah satu kesalahan penamaan yang cukup signifikan terkait Kerajaan Kalingga adalah asal-usul nama “Kalingga” itu sendiri. Menurut Asisi Chanel Baca : https://www.youtube.com/@ASISIChannel, nama ini muncul karena kesalahpahaman ketika Maharani Sima mengutus utusan ke Tiongkok, yang pada saat itu di bawah kekuasaan Dinasti Tang. Cara berpakaian utusan yang mirip dengan orang India membuat mereka disebut “Keling” atau “Kaling” oleh masyarakat Tiongkok.
Setelah itu, ketika Tiongkok mengutus utusan kembali ke tanah Jawa, mereka menyebut wilayah itu “Jawa.” Sebuah kerajaan yang kemudian dijadikan mitra perdagangan, terutama dalam perdagangan rempah-rempah. Meskipun demikian, penamaan “Kalingga” tetap digunakan oleh sejarawan modern dan sering kali muncul dalam literatur sejarah di Indonesia.

Hukum dan Keadilan
Kalingga juga dikenal sebagai kerajaan yang menerapkan hukum tanpa pandang bulu. Salah satu contoh yang terkenal adalah ketika Ratu Shima menghukum anaknya sendiri karena menyentuh bungkusan emas yang terjatuh di jalan. Ini menunjukkan komitmen kerajaan terhadap keadilan dan ketegasan hukum.
Kerajaan Kalingga memiliki sejarah yang kaya dan penting dalam konteks peradaban di Nusantara. Namun, kesalahan penamaan yang berasal dari interaksi dengan Dinasti Tang menunjukkan betapa kompleksnya komunikasi dan persepsi antarbudaya. Meskipun penamaan “Kalingga” mungkin tidak sepenuhnya akurat, hal ini mencerminkan tantangan dalam mendokumentasikan sejarah dan budaya yang beragam.
Penulis : Mail








