Beranda Ekonomi Jangan Rayakan Angka 5,61% Terlalu Dini Karena yang Tumbuh Bisa Jadi “Proyek”,...

Jangan Rayakan Angka 5,61% Terlalu Dini Karena yang Tumbuh Bisa Jadi “Proyek”, Bukan Ekonomi

35
0

Saksi Publik– Jakarta 25/05 2026 Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang tercatat 5,61% (YoY) memang menggoda. Apalagi ketika inflasi turun ke 2,42% pada April 2026, memberi kesan bahwa ekonomi berjalan “tertib” harga tidak liar, aktivitas masih bergulir, dan kebijakan tampak sinkron.

Namun justru di sinilah kita perlu menahan euforia. Karena ada perbedaan besar antara ekonomi yang kuat dan aktivitas yang terlihat ramai. Banyak orang hanya melihat angka PDB. Tetapi pengamat melihat pertanyaan yang lebih tajam yang mendorong pertumbuhan itu sebenarnya apa?

Jika pendorong utamanya berasal dari government spending, maka kita sedang menghadapi skenario yang sering terjadi pertumbuhan terlihat melonjak, tetapi fondasinya belum tentu sehat. Yang tumbuh bisa saja lebih mirip “mesin proyek” pembiayaan dan belanja publik yang membuat ekonomi bergerak di permukaan daripada “mesin produktivitas” yang membuat ekonomi bertahan dalam jangka panjang.

Pertumbuhan yang tinggi, tapi rapuh jika bersandar pada belanja

Belanja pemerintah memang punya fungsi. Dalam PDB, government spending adalah komponen penting yang dapat mengangkat permintaan agregat. Saat belanja meningkat, belanja input, pekerjaan, distribusi, dan aktivitas ekonomi lain ikut terseret naik.

Masalahnya bukan pada belanja pemerintah. Masalahnya pada ketergantungan. Ketika pertumbuhan sangat ditopang oleh dorongan fiskal, maka yang terjadi adalah pertumbuhan yang “berjalan karena remnya ditekan”bergerak saat stimulus menyalur, tapi bisa melambat ketika tarik-menarik kebijakan berubah.

Dan kritik yang patut dicermati adalah bahwa laju pertumbuhan ini terlihat lebih terdorong oleh pengeluaran publik bahkan hingga skema pembiayaan tertentu yang jika dibandingkan dengan pola 10 tahun terakhir, menimbulkan kesan adanya percepatan yang sangat besar.

Inflasi turun bukan bukti bahwa fundamental sedang menang

Kita patut menghargai kabar baik inflasi turun, inflasi inti juga melemah, kenaikan bulanan melambat. Itu semua bisa berarti tekanan biaya dan permintaan tidak terlalu menekan harga.

Tapi inflasi yang rendah bukan “sertifikat kesehatan” ekonomi secara total. Inflasi hanyalah salah satu sisi mata uang. Pertumbuhan bisa tinggi dengan inflasi yang jinak tanpa otomatis menghasilkan produktivitas yang meningkat, tanpa jaminan daya tahan investasi, dan tanpa pembuktian bahwa sektor riil benar-benar menguat karena kapasitasnya sendiri.

Pembiayaan dan pasar obligasi sinyal bagus tapi juga “jalur napas” stimulus

Pemerintah juga aktif memperdalam pasar obligasi dengan prinsip komposisi utang domestik dan valas serta mengandalkan minat investor yang tinggi. SUN oversubscription dan arus masuk bersih SBN domestik menunjukkan sistem pembiayaan bekerja.

Namun mari jujur  semakin besar belanja, semakin besar pula kebutuhan pembiayaan. Maka memperluas instrumen obligasi bahkan hingga penerbitan di pasar internasional bisa dibaca sebagai upaya cerdas mengelola utang.

Tetapi publik tetap berhak menanyakan apakah strategi ini membuat ekonomi makin kuat, atau hanya memperpanjang napas belanja agar pertumbuhan tetap terlihat?

Angka boleh naik, tapi kita harus menuntut kualitas

Pertanyaan paling penting bukan “apakah Indonesia tumbuh?”, melainkan,

  • Apakah pertumbuhan ini menghasilkan kapasitas ekonomi baru, atau hanya mengangkat aktivitas sementara?
  • Apakah konsumsi dan investasi tumbuh karena daya tahan pendapatan dan iklim usaha, atau karena dorongan belanja?
  • Seberapa besar beban fiskal dan pembiayaan jangka menengah yang ditanamkan untuk mencapai angka hari ini?

Jika jawabannya tidak tegas, maka kita sedang merayakan sesuatu yang rapuh  pertumbuhan yang “kelihatan”, tetapi belum tentu “mendidik” ekonomi menjadi lebih produktif.

Penulis : Skamto99

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini