Sakasi Publik – Cilacap, 18 Agustus 2025 – Dalam sebuah diskusi yang menarik, Ahmad Rifai, seorang pemerhati budaya dan sejarah dari Nusawangkal Nusawungu, mengungkapkan pandangannya tentang sejarah wilayah Cilacap. Dalam paparannya dengan tema “Kertanegara, Kertapraja, Adiraja, dan Adipala”, ia menjelaskan bahwa daerah yang sekarang dikenal sebagai Cilacap memiliki akar sejarah yang dalam dan kompleks.
Sejarah Kerajaan
Ahmad Rifai menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan, wilayah Ayah termasuk dalam Kabupaten Banyumas, dengan ibukota berada di Adiraja dan Adipala. Menariknya, pada masa itu, Kabupaten Kebumen dan Cilacap belum ada. Kini, Ayah masuk dalam wilayah Kebumen, sementara Adiraja dan Adipala termasuk Cilacap.
Di masa itu, Raja Surakarta adalah Paku Buwana IV, dan Bupati Banyumas dijabat oleh Yudanegara II. Ngabehi Ayah pada saat itu adalah Kertanegara. Dalam kisahnya, Ahmad menjelaskan peristiwa penting ketika terjadi perampokan oleh bajak laut di Donan, yang kelak dikenal sebagai Cilacap. Untuk mengamankan daerah tersebut, ibukota Ayah dipindahkan dari Ayah ke Adiraja oleh Ngabehi Kertanegara.
Keberanian dan Kepemimpinan
Setelah mengamankan Ayah, Kertanegara diangkat menjadi pemimpin pasukan di Keraton Surakarta, dan posisinya sebagai Ngabehi Ayah digantikan oleh putranya, Ngabehi Kertapraja. Ahmad juga menyebutkan kunjungannya ke makam Ngabehi Kertapraja di Adipala.
Namun, pertanyaan muncul mengapa Ngabehi Kertapraja dimakamkan di Adipala dan bukan di Adiraja. Ahmad menjelaskan bahwa setelah Ngabehi Dipayuda IV dipindah dari Purbalingga ke Ayah, wilayah tersebut dibagi menjadi dua. Ngabehi Kertapraja memimpin di Adipala, sedangkan Ngabehi Dipayuda IV berkedudukan di Adiraja.
Diskusi dan Koreksi
Dalam diskusi tersebut, Koestoro dari Ujungalang memberikan tanggapan kritis. Ia menyebutkan bahwa di Kampung Laut belum ditemukan informasi mengenai keberadaan meriam. Namun, sejarah tentang Mataram yang mengirimkan pasukan untuk menumpas bajak laut adalah benar. Ia menjelaskan bahwa sebelum dinamakan Kampung Laut, daerah tersebut dikenal sebagai Bejagan, yang berfungsi sebagai tempat penjagaan pasukan Mataram dari gangguan bajak laut.
Koestoro menambahkan bahwa operasi tersebut dikenal dengan nama “Jaga Laut”, dipimpin oleh Ki Kerta Pati, seorang wira tamtama yang memiliki keahlian bertempur di atas air. Makamnya terletak di daerah Pesuruhan, sebelah barat Lapas Aseman Nusakambangan.
Kesepakatan untuk Eksplorasi Lebih Dalam
Peserta diskusi sepakat bahwa sejarah dan budaya Kabupaten Cilacap perlu dieksplorasi lebih dalam. Hal ini penting agar warisan sejarah tidak dilupakan dan dapat dipahami dengan baik oleh generasi mendatang. Diskusi ini menjadi langkah awal untuk menggali lebih dalam mengenai sejarah yang kaya dan beragam di wilayah Cilacap, serta memperkuat identitas budaya masyarakatnya.
Penulis : Admin








